Saat ini umat muslim sedunia sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Bagi muslim bulan Ramadhan adalah bulan penuh hikmat,  bulan maghfiroh (ampunan) dan bulan rahmad. Bulan ramadhan ibarat kawah condrodimuko di mana seluruh segenap muslim melakukan peleburan dosa, pembersihan diri dari segala aktifitas  yang mungkin disadarinya banyak melanggar ketentuan Allah SWT.

Tak mengherankan jika di bulan Ramadhan masjid, surau, langgar dan musholla dipadati oleh jamaah untuk melakukan shalat berjamaah, Shalat Tarawih, Itikaf ataupun Baca/Deres Al-quran, mereka  pada berlomba-lomba bersedekah dan menyantuni fakir miskin dan yatim piatu. Inilah kesemarakan aktifiatas bulan suci Ramadhan nampak di segala penjuru negeri karena Indonesia adalah negara dengan pemeluk muslim terbesar di dunia.

Kita harus berterima kasih dengan para wali songo, para kyai, para guru dan para buya yang tempoe doeloe menyebarkan agama Islam di Nusantara. Pernah bayangin gak..?  bagaimana cara mereka menyebarkan agama Islam tempoe doeloe;  kebanyakan dari para auliya dalam menyebarkan islam, harus adu kedigdayaan/adu kesaktian  dengan orang sakti penguasa daerah setempat, resikonya jika kalah pasti mati, mana ada orang sekarang yang mau mengambil resiko seperti itu.

Kembali ke Ramadhan. Bahkan terdapat kesemarakan yang dilakukan sebelum  datangnya bulan Ramadhan di beberapa daerah diantaranya; Tradisi Balimau di Sumatera Barat. Balimau adalah mandi bersama di sungai sebagai wujud kebersatuan manusia, leluhur dan Tuhan yang Maha Esa.  Ada juga Pacu jalur di daerah Riau, Pacu Jalur adalah Lomba Dayung yang kini malah menjadi wisata tahunan jelang Ramadhan.  Tradisi Dandangan Buka Luwur di dearah saya di Kudus, perayaannya bahkan sampai seminggu, mengganti luwur/tutup bagunan makam sunan kudus. Kudus adalah daerah yang istimewa  karena terdapat dua wali songo yakni Sunan Kudus dan Sunan Muria, saya ngak tau apakah warga Kudus ndablek-ndablek sampai dua di antara wali songo doeloe harus bertugas di wilayah Kudus, atau memang tanahnya suci dan dicintai oleh para wali sehingga dinamakan Kudus.

Kesemarakan aktifitas di bulan suci Ramadhan ini hanya terjadi di Indonesia, namun demikian pemeluk  Islam di dunia juga bersuka cita dengan datangnya bulan Ramadhan tapi tidak sesemarak di Indonesia.  Dan anehnya KESEMARAKAN BERIBADAH DI BULAN SUCI INI BERHENTI TOTAL DI SAAT PROSESI IBADAH PUASA RAMADHAN TELAH USAI dan ini hanya terjadi di Indonesia. Kenapa bisa demikian..?

Nah inilah masalah besar bagi umat muslim Indonesia, level ibadahnya masih pada tataran kesemarakan. Selalau ada dua dimensi dalam beribadah pertama kesemarakan dan yang kedua adalah pendalaman. Kesemarakan adalah publisitas kalau pendalaman intinya adalah pemahaman tentang ibadah tersebut dan ini yang terpenting yang justru banyak diabaikan.

Jika diibaratkan puasa Ramadhan adalah training panjang  yang dilaksanakan selama sebulan penuh dan diikuti oleh seluruh pemeluk islam sedunia, kira-kira apa tujuan dari penyelenggara training tersebut…dan apa yang diharapkan dari peserta training ketika ingin mengikuti training ini..?

Seperti halnya ketika Anda mengikuti sesi training, tentu di benak Anda sudah ada gambaran mengenai capaian yang ingin Anda dapatkan bukan..? seperti ketika Anda mengikiuti sesi training communication skill, tentu sehabis training Anda mengharapkan menguasai atau, minimal mengetahui cara-cara bagaimana  melakukan komunikasi secara efektif. Jika setelah mengikuti training tidak ada apapun yang ada dapatkan, jelas sekali training yang Anda ikuti sia-sia belaka, buang waktu buang duit percuma dan training Anda GAGAL.  Inilah gambaran kesemarakan aktifitas beribadah di bulan suci jika berhenti total di saat prosesi ibadah puasa ramadhan telah usai. Tentu kita tidak mau demikian.

Setiap sesi training pasti memiliki tujuan, dan tujuan training adalah terbentuknya perilaku yang menetap entah soft skill maupun hard skill. Yang pasti tujuan umum setiap pembelajaran atau pelatihan adalah adanya perubahan perilaku yang menetap.

Begitu juga ibadah puasa bulan suci Ramadhan, dimana selama sebulan full kita dilatih kelaparan dan kehausan di siang hari, ini untuk menajamkan jiwa kesalehan social kita, meningkatkan kesadaran kepedulian kepada kaum dhuafa yang biasa menjalani kehidupannya dengan perut kosong agar kita peduli dengan berbagi.  Kelaparan dan kehausan di siang hari juga menumpulkan sifat ketamakan kita agar kita tidak mengambil apa yang tidak menjadi hak kita dan kebutuhan kita. Karena ketamakan inilah bangsa kita terpuruk karena banyak dari pejabat negeri ini pada korup yang merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan beragama.

Kita dilarang ghibah,padu,gosip,berbohong dll selama melaksanakan ibadah puasa dan diancam pahala bulan puasa dihapus jika melakukan salah satu perbuatan tersebut. Memang dikira setelah Ramadhan damai-damai saja jika melakukan salah satu hal tersebut, dosanya tetep sama saja. Diibaratkan orang yang menggunjing saudaranya itu seperti orang yang makan daging  saudaranya sendiri. Dan semua dosa korban gosip akan dilimpahkann kepada si tukang gosip.

Kita juga dilarang marah, bercinta dan diminta bersabar ketika menghadapai sesuatu yang memicu amarah. Intinya ibadah puasa memberikan pembelajaran kepada kita untuk mengontrol hawa nafsu/emosi dan merendahkan sifat egosentris kita sebagai manusia sehingga dengan demikian untuk menjadi pribadi yang bener  menjadi hambanya yang muttaqin mungkin bisa tercapai.

Nah itulah sebagian kecil dari tujuan Anda mengikuti training panjang yang kita kenal bersama dengan “Ibadah Puasa Ramadhan” kesuksesan dari mengikuti training ini bukan di saat prosesi trainingberlangsung akan tetapi nampak  setelah proses training selesai.  Nah kini kembali kepada Anda, seberapa baik hasil yang ingin Anda dapatkan dalam mengikuti training tersebut untuk kemudian Anda terapkan dalam kehidupan keseharian Anda… menjadi pribadi yang ekselen, pribadi dengan seribu kebaikan dan limpahan sifat positif..selamat menjadi pribadi yang baru…?

Advertisements