Saya masih menyimpan formulir keanggotaan investasi DAGING SAPI, yang belakangan saya ketahui sebagai bisnis utama Koperasi Langit Biru. Tepat setahun yang lalu ada teman datang ke rumah menawarkan investasi DAGING SAPI yang memberikan keuntungan amat sangat menggiurkan.  Paket yang ditawarkan kala itu 10 juta dan kelipatannya. Nah ini yang penting …! setiap sepuluh juta uang yang saya investasikan tiap bulan akan mendapatkan 17% berupa uang,  satu juta berupa tabungan dan 1,7 juta sebagai kredit motor jadi total bonus bulanan kira-kira 30%. Setelah dua tahun tabungan kita akan diberikan cash sebesar 100 juta, minimal itu informasi yang saya tangkep saat itu,  GILA NGAK…!!!!.

Seketika mata saya menjadi biru dengan kilauan bonus yang diberikan. Dia juga meyakinkan bahwa adik iparnya yang ex Manager Akuntansi Astra sudah bergabung dan menurut analisanya  investasi ini sangat logis, nah tambah meyakinkan saya untuk segera bergabung.

Akhirnya saya kembali ke alam sadar saya. Dan saya bilang ke temen saya bahwa investasi ini tidak benar. Karena tidak Logis secara ekonomi, mana mungkin sekelas koperasi mampu menjual daging sapi ton-tonan tiap hari  secara konstan (kalau investasi 10 juta berarti saya inves 1 kwintal daging sapi, padahal sudah ada sekitar 4 ribu yang investasi dengan nominal 10 juta atau setara 400 ton ). Prediksiku saat itu, bisnis ini hanya akan bertahan dua tahun. Dan hanya investor tahun pertama yang diuntungkan minimal kembali modal. Untuk investor tahun kedua yang akan mengalami kerugian total karena duit yang diinvestasikan dipakai untuk membayar bonus investor tahun pertama, dan jika saya masuk, saat itu mulai di awal tahun kedua. Apalagi kata dia sistemnya masih manual artinya pendaftaran dan bonus harus diambil langsung dengan alasan menjalin silaturrahmi dengan sang Ustadz. Nah semakin jelas tidak logisnya investasi ini.

Apa yang dapat kita petik dari fenomena investasi bodong ini..

Pertama; Masyarakat saat ini mengalami sindrom “NGEBET KAYA” akibat budaya hedonis dan materiastik yang sudah mendarah daging.  Nah karena NGEBET KAYA sudah tidak terbersit dibenak mereka konsep mendapatkan kekayaan dengan sistem berusaha/bekerja secara normal tahap-demi tahap. Jadinya mereka mudah tergiur untuk melakukan cara cepat, cara instan dalam menumpuk pundi-pundi kekayaan. Akibatnya jika ada penawaran investasi dengan bonus yang menggiurkan tetep saja diminati oleh masyarakat kita. Di dusun saya juga pernah ada investasi Amalilah.  Hanya  investasi Rp.7000 maka akan mendapatkan dana amal sebesar 21  juta rupiah di saat dana Amalilah sudah cair yang jumlahnya triliyunan. Banyak yang dibela-belain jual ladang untuk mengambil 1000 kupon berharap dapet 21 milyar.  Akhirnya Bodong juga,  kapan masyarakat kita mau belajar…???

Kedua; Berinvestasi adalah tradisi orang-orang kaya. Jika Anda ingin kaya berinvestasilah jangan menabung. Menabung tidak akan membuat Anda kaya malah justru dana Anda mandek dan memperkaya perbankan saja. Tapi jika Anda ingin berinvestasi  berinvestasilah pada lembaga yang bener. Untuk mengetahui lembaga yang bener bisa anda tanyakan mengenai legalitasnya. Banyak sekali izin untuk menggalang dana masyarakat dalam rangka untuk investasi, mulai dari BI dll. Dan ingat koperasi itu tidak memiliki izin untuk menggalang dana masyarakat dalam rangka berinvestasi. Koperasi hanya lembaga simpan pinjam bukan investasi. Dan berinvestasilah yang memberikan tingkat keuntungan yang wajar.

STOP INVESTASI BODONG. JANGAN MAU KETIPU LAGI. BERSYUKURLAH DENGAN APA YANG ANDA MILIKI SEKARANG. JIKA ANDA INGIN BERKELIMPAHAN BEKERJALAH DENGAN LEBIH CERDAS DAN GIAT.

Advertisements