Pesan Bung Karno; jangan pernah melupakan sejarah “JAS MERAH’ jelas sudah diabaikan oleh para Petinggi Negara dan Pejabat Teras negeri ini. Kini setiap hari mata dan telinga kita dijejali ribuan berita korupsi yang dilakukan oleh komplotan si Berat. Sumber daya negara terbuang-sia-sia untuk mengungkap otak besar/bos besar dalang dibalik semua korupsi itu, karena seringnya melakukan korupsi, mereka kini menjadi expert dalam mengelabuhi hukum, duh…

Jika saja para pejabat dan Petinggi Negara mau menengok dan menerapkan kearifan leluhur yang tersimpan rapi digulungan daun lontar tentang bagaimana kelakuan seorang pemimpin dalam mengelola negara, niscaya kebobrokan tidak seancur saat ini. Pada postingan kali ini saya akan share sebuah manuskrip kuno yang dijadikan pegangan hidup bagi para pemimpin zaman kerajaan. Serat tersebut berjudul; Dasa Parateming Prabu atau “18 ilmu kepemimpinan. Pustaka Hasta Dasa Parateming Prabu diduga sebagai pegangan para pemimpin dan merupakan ajaran Mahapatih Gajah Mada. Berikut ulasannya;

Pertama, Wijaya; Pemimpin harus mempunyai jiwa tenang, sabar dan bijaksana, serta tidak lekas panik dalam menghadapi berbagai macam persoalan. Hanya dengan jiwa yang tenang masalah akan dapat dipecahkan.

Kedua, Mantriwira; Pemimpin harus berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan tanpa terpengaruh tekanan dari pihak mana pun.

Ketiga, Natangguan; Pemimpin harus mendapat kepercayaan dari masyarakat dan berusaha menjaga kepercayaan yang diberikan tersebut sebagai tanggung jawab dan kehormatan.

Keempat, Satya Bhakti Prabhu; Pemimpin harus memiliki loyalitas kepada kepentingan yang lebih tinggi dan bertindak dengan penuh kesetiaan demi nusa dan bangsa.

Kelima, Wagmiwak; Pemimpin harus memunyai kemampuan mengutarakan pendapatnya, pandai berbicara dengan tutur kata yang tertib dan sopan serta mampu menggugah semangat masyarakatnya.

Keenam, Wicaksaneng Naya; Pemimpin harus pandai berdiplomasi dan pandai mengatur strategi dan siasat.

Ketujuh, Sarjawa Upasama; Pemimpin harus rendah hati, tidak boleh sombong, congkak, jangan mentang-mentang jadi pemimpin lalu sok berkuasa.

Kedelapan, Dhirotsaha; Pemimpin harus rajin dan tekun bekerja, memusatkan rasa, cipta, karsa dan karyanya untuk mengabdi kepada kepentingan umum.

Kesembilan, Tan Satrsna; Pemimpin tidak boleh pilih kasih terhadap salah satu golongan, tetapi harus mampu mengatasi segala paham golongan, sehingga dengan demikian akan mampu mempersatukan seluruh potensi masyarakatnya untuk menyukseskan cita-cita bersama.

Kesepuluh, Masihi Samasta Bhuwana; Pemimpin mencintai alam semesta dengan melestarikan lingkungan hidup sebagai karunia Tuhan dan mengelola sumber daya alam dengan sebaik-baiknya demi kesejahteraan rakyat.

Kesebelas, Sih Samasta Bhuwana; Pemimpin dicintai oleh segenap lapisan masyarakat dan sebaliknya pemimpin mencintai rakyatnya.

Keduabelas, Negara Gineng Pratijna; Pemimpin senantiasa mengutamakan kepentingan negara dari pada kepentingan pribadi atau golongan, mau pun keluarganya.

Ketigabelas, Dibyacitta; Oemimpin harus lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain atau bawahannya (akomodatif dan aspiratif).

Keempatbelas, Sumantr; Pemimpin harus tegas, jujur, bersih, dan berwibawa.

Kelimabelas, Nayaken Musuh; Pemimpin dapat menguasai musuh-musuh, baik yang datang dari dalam atau dari luar, termasuk juga yang ada di dalam dirinya sendiri.

Keenambelas, Ambek Parama Artha; Pemimpin harus pandai menentukan prioritas atau mengutamakan hal-hal yang lebih penting bagi kesejahteraan dan kepentingan umum.

Ketujubelas, Waspada Purwa Artha; Pemimpin selalu waspada dan mau melakukan mawas diri (introspeksi) untuk melakukan perbaikan.

Kedelapan belas. Prasaja; Pemimpin supaya berpola hidup sederhana (aparigraha), tidak berfoya-foya atau serba gemerlap.

Ref.

Advertisements