Oleh : Yodhia Antariksa, msc in hr management.

https://i1.wp.com/strategimanajemen.net/apps23/wp-content/uploads/2011/10/yodhia-close8.jpgBanyak kaum perempuan yang telah berkeluarga, dan sekaligus bekerja sebagai pegawai kantoran, acap dihadapkan pada sebuah dilema. Jam kerja kantor terasa begitu panjang, sementara kemacetan yang memilukan tiap hari datang menyergap. Maka banyaklah ibu-ibu muda yang berangkat ke kantor kala fajar menyingsing dan pulang kala petang telah menjelang.

Lalu dimanakah waktu untuk berdendang dengan sang buah hati yang mungkin tengah lucu-lucunya? Pelan-pelan kerinduan untuk meluangkan banyak waktu di rumah kian menjulang. Itulah kenapa kemudian banyak wanita karir yang memutuskan untuk resign, “pulang ke rumah” dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya.

Yang menjadi tantangan kemudian adalah ini : ketika waktu di rumah telah melimpah, ketika sang suami telah berangkat ke kantor, anak-anak sudah berangkat sekolah, dan beres-beres rumah sudah selesai, apa yang harus dilakukan agar tetap bisa menjadi ibu rumah tangga yang produktif? Sebab kan ndak asyik juga jika waktu yang melimpah itu hanya habis untuk arisan dan ngerumpi dengan tetangga.

Itulah kenapa kini muncul sebuah niatan untuk menjadi “mommy netpreneur” : atau sebuah lelakon untuk menjadi ibu rumah yang produktif dengan cara menjadi “online entrepreneur a la ibu rumah tangga”.

Konsep ini sejatinya merupakan sebuah ikhtiar untuk menjalankan sebuah usaha demi tambahan sesuap nafkah yang bisa dijalankan dari rumah : dengan demikian fungsi sebagai ibu rumah tangga tetap bisa berjalan dengan optimal. Usaha ini bisa dijalankan dari rumah karena menggunakan bantuan media internet – sebuah media yang kini makin menjadi tempat favorit untuk berbelanja. Online shopping, begitu istilah kerennya.

Buku yang tengah Anda baca sekarang ini dengan sangat memikat menjelaskan cara untuk memulai dan menjadi female netpreneur yang meraih sukses double : sukses mencari nafkah tambahan buat keluarga, dan sekaligus sukses memberi waktu yang berlimpah kepada anak dan suaminya (sebab ia menjalankan semua usahanya dari rumah).

Pilihan menjadi mommy netpreneur, saya kira memang salah satu pilihan yang bijak bagi kaum perempuan modern saat ini. Oke pilihan menjadi wanita karir juga sah : namun ditengah beban pekerjaan kantor yang terus menumpuk, dan juga perjalanan dari rumah ke kantor yang kian macet parah, saya kok membayangkan, semua ini rasanya berat bagi kaum perempuan.

(Terus terang saya acap masygul kala melihat ibu muda, di sebuah malam, harus berdesakan di busway sambil berdiri, untuk pulang ke rumahnya. Mungkin anaknya yang lucu telah terlelap di kamar tidurnya, karena terlalu lama menanti sang bunda yang tidak kunjung datang…..).

Pada sisi lain, pilihan menjadi ibu rumah tangga tanpa usaha yang produktif mungkin juga bukan hal yang bijak. Sebab tambahan nafkah dari sang bunda mungkin juga amat penting untuk menopang beban keuangan keluarga yang kian berat (hey, bukankah harga-harga sembako naik terus!).

Menjadi mommy entrepreneur, mungkin dalam jangka panjang juga bisa ikut membantu mewujudkan keluarga sakinah yang mandiri dan poduktif : itulah sebuah momen ketika peran ibu tetap bisa dijalankan dengan maksimal sembari berupaya menjadi perempuan yang produktif secara ekonomi (economically productive).

Advertisements